id.llcitycouncil.org
Ilmu

Peneliti MIT Mengubah Bayam menjadi Detektor Bahan Peledak

Peneliti MIT Mengubah Bayam menjadi Detektor Bahan Peledak


We are searching data for your request:

Forums and discussions:
Manuals and reference books:
Data from registers:
Wait the end of the search in all databases.
Upon completion, a link will appear to access the found materials.


Mungkin Popeye the Sailor Man sedang melakukan sesuatu dengan penggunaan bayamnya pada saat-saat sulit.

Studi terbaru membuktikan bahwa bayam lebih dari sekadar makanan super. Ini juga bisa menjadi pendeteksi bahan peledak. Peneliti di Institut Teknologi Massachusetts (MIT)mengembangkan tanaman bayam yang dapat mendeteksi dan waspada terhadap bahan peledak.

Insinyur MIT menanamkan daun bayam dengan tabung nano karbon. Ini memungkinkan tanaman untuk mengumpulkan informasi melalui sensor dan mengirim info secara nirkabel ke perangkat genggam. Pendekatan, yang disebut "nanobionik tanaman" oleh para peneliti, adalah salah satu demonstrasi pertama rekayasa sistem elektronik ke dalam tanaman.

Bagaimana cara kerjanya?

Daun bayam mendeteksi bahan kimia yang disebut nitroaromatics. Senyawa ini dapat ditemukan di ranjau darat dan jenis bahan peledak lainnya. Jika senyawa dapat dideteksi dalam sampel air oleh pabrik, tabung nano memancarkan sinyal. Tanda fluorescent dapat dibaca melalui kamera infra merah.

Kamera itu bisa ditambahkan ke smartphone atau komputer. Jika ada yang terdeteksi, kamera akan mengirim email ke pengguna.

[Gambar milik Pixabay]

Para peneliti memasukkan sensor ke dalam bayam melalui "infus vaskular". Teknik ini menempatkan nanopartikel ke bagian bawah daun tempat sebagian besar fotosintesis berlangsung.

Jika satu set sinyal salah membaca air, para peneliti memasang set kedua tabung nano karbon untuk membandingkan sinyal.

Tanaman hanya membutuhkan 10 menit untuk memasukkan air ke dalam daunnya dan menentukan apakah air tersebut mengandung nitroaromatik.

Para peneliti membaca sinyal tersebut dengan menyinari laser di daun. Ini mendorong tabung untuk memancarkan cahaya fluoresen. Tim tersebut mengatakan sinyal dapat dideteksi melalui smartphone. Mereka hanya melepas filter infra merah yang dimiliki kebanyakan ponsel kamera

Sinyal itu juga bisa dideteksi dengan smartphone dengan menghilangkan filter infra merah yang dimiliki kebanyakan ponsel kamera, kata para peneliti.

Pengaturan tersebut memungkinkan peneliti mendapatkan sinyal dari jarak sekitar 1 meter dari pabrik. Michael Strano, peneliti utama tim, mengatakan mereka sedang berupaya meningkatkan jarak itu.

“Ini adalah demonstrasi baru tentang bagaimana kami telah mengatasi penghalang komunikasi tumbuhan / manusia,” kata Strano.

LIHAT JUGA: CellPod: Gadget Bio-Tech Cetak 3-D Menumbuhkan Tanaman demi Sel di Rumah

Strano adalah penulis senior makalah yang mendeskripsikan tanaman nanobionik pada 31 Oktober 2016, terbitan Bahan Alam. Penulis utama makalah ini adalah Min Hao Wong, mahasiswa pascasarjana MIT yang mendirikan perusahaan Plantea untuk mengembangkan teknologi ini, dan Juan Pablo Giraldo, asisten profesor di University of California di Riverside.

Tonton videonya di sini:

Melalui MIT

Ditulis oleh Alekhya Sai Punnamaraju


Tonton videonya: Lets Blast!


Komentar:

  1. Wickam

    Wacker, omong-omong, kalimat itu baru saja muncul

  2. JoJolabar

    Ada juga kekurangan lainnya

  3. Gonris

    Menurut pendapat saya, Anda mengakui kesalahan. Menulis kepada saya di PM.

  4. JoJozshura

    Ini adalah tema yang tiada tara :)

  5. Leonel

    your idea is magnificent

  6. Chas Chunk A

    I agree, very useful message



Menulis pesan